HOME


Sejarah Desa
a.  Legenda Desa (Sasakala)
Desa Pamulihan berada disebelah selatan Kabupaten Kuningan dan berada diperbatasan antara kabupaten Kuningan dengan Kabupaten Ciamis dan perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Secara geografis Desa Pamulihan terdiri atas tanah yang berbukit-bukit dan curam serta dilalui dua sungai yaitu sungai cisubang dan Cicapar.
Desa Pamulihan mengalami dua kali pemekaran sepanjang sejarah pendiriannya :
*     Pemekaran pertama terjadi pada tahun 1978 dengan pembagian wilayah desa Pamulihan dan Desa Mandapajaya. Wilayah desa Pamulihan meliputi: kampung Citetel, Cikanyere, Cisawah, Cibahu, Cikolotok, Nangerang, Cikalong, Sukadana, Dayasari, Menda, Cikoneng, Cimarangi, Kadupugur, Sirnagalih, Sarangkole, Ciketug, Sukamulih, Ciguna, Kembang lopang dan Cukang kanyere sebagai ibukota Desa Pamulihan.
*      Pemekaran kedua terjadi pada tahun 1983 yaitu Desa Pamulihan dan Desa Jatisari.
Pada masa ini wilayah Desa Pamulihan meliputi : Kampung Menda, Cikoneng, Cimaranggi, Kadupugur, Sirnagalih, Sarangkole, Ciketug, Sukamulih , Ciguna, Kembanglopang, Sukamulya dan Cukangkanyere sebagai pusat  ibukota.

Berbicara tentang sejarah Desa Pamulihan tentu tidak lepas dari cikal bakal dan awal kehidupan masyarakat Desa Pamulihan yang berasal dari Kedaleman Ketug.
Kedaleman Ketug merupakan pemerintahan setingkat desa pertama dan tertua diperbukitan Subang dengan pusat pemerintahannya di Babakan Ketug yang lokasinya berada disebelah utara kampung Ciketug Desa Pamulihan.
Para tokoh besar yang mengawali membangun dan mengembangkan kehidupan bermasyarakat diperbukitan Ketug, antara lain:
1)    Buyut Ahim merupakan orang pertama yang mengawali pembukaan hutan trofis di Bukit Ketug yang dijadikan ladang dan pemukiman.
2)    Jabasraga sebagai Dalem Ketug, merupakan pemimpin pemerintahan setingkat Desa pertama dan tertua di wilayah perbukitan subang yang menikah dengan keturunan Buyut Ahim dan mempunyai putra yang bernama Wangsapraya, Wangsareka dan Rincik Manik. Beliau mempunyai peranan dan jasa yang besar dalam penyebaran agama islam.
3)    Wirananggapati seorang putra mataram, baik ketika berada di Kedaleman Ketug sebagai pengganti Jabasraga maupun sesudah pindah ke Cibabangsalan Subang merupakan tokoh pembaharuan di Kedaleman Ketug dan sebagai Kuwu Desa Subang yang pertama. Wirananggapati juga merupakan menantu dari Jabasraga yang diangkat langsung oleh sultan mataram menjadi Dalem Ketug kedua atau kepala desa Suban yang memindahkan pusat pemerintahan ke Cibabangsalan Subang dan tidak menggunakan nama Ketug lagi.
4)    Wangsapraya, sepeninggal Wirananggapati yang pindah ke Cibabangsalan Subang, Kedaleman Ketug mengalami kekosongan. Hal ini menyebabkan masyarakat menaruh harapan yang besar kepada Wangsapraya untuk memimpin Kedaleman ketug karena keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari. Wangsapraya tinggal di Ciketug sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Makam Pasarean Ciketug.

Peninggalan bekas Kedaleman Ketug yang masih bisa kita jumpai sampai sekarang adalah:
1)    Makam Wangsapraya, putra sulung Dalem Ketug Jabasraga yang disebut Pasarean Dalem yang berada di Kampung Babakan Ciketug Desa pamulihan.
2)    Makam Wangsareka putra kedua Dalem Ketug yang disebut Makam Buyut di Kampung Cirahayu desa Subang.
3)    Makam Wirananggapati dan Rincik Manik di Cibabangsalan Subang.
4)    Leuweung Gedogan, bekas kandang kuda dan saung ladang jabasraga yang berada di bukit Nagog Kampung Sukamulih dan Sukamulya Pamulihan.
5)    Leuweung Angker, yang merupakan bekas pintu gerbang masuk ke Kedaleman Ketug dan berada di pinggir jalan menuju Sarangkole dan awal memasuki Bukit Nagog.
6)    Embak Aryani, merupakan tempat pemandian dilereng Bukit Nagog yang airnya tidak pernah kering walaupun musim kemarau.
7)    Kampung Babakan Ketug yang merupakan tempat tinggal Jabasraga serta pemukiman sebagian penduduk Kedaleman Ketug.

Dan seiring berjalannya waktu, Desa Subang mengalami pemekaran pada masa Kuwu Raksamanggala yaitu kuwu subang ke-8. Desa Pamulihan diambil dan dipilih sebagai nama dari desa pemekaran tersebut. Kata Pamulihan (pangbalikan) mengandung pengertian tempat mulih (tempat kembali). Ini berarti tempat kembalinya pemerintahan setingkat desa ke wilayah Kedaleman Ketug pertama, dan sebagai pusat pemerintahannya di Sawah Jati. Hal ini terjadi pada tahun 1870  dan kuwu pertamanya adalah Wiradinata atau lebih dikenal dengan nama Kuwu Sadjong. Bukti sejarah bahwa Sawah Jati pernah menjadi pusat pemerintahan adalah adanya tempat pemakaman umum Astana Pamulihan yang sekarang lebih dikenal dengan nama Tarikolot.
Desa Pamulihan sebagai desa pemekaran wilayahnya meliputi Bulaklega, Sindang, Palasari, Salem, Cipicung, Citetel, Cikanyere, Cisawah, Cibahu, Cikolotok, Nangerang, Cikalong, Sukadana, Dayasari, Menda, Cikoneng, Cimaranggi, Cukangkanyere, Kadupugur, Sirnagalih, Sarangkole, Ciketug, Ciguna dan Kembanglopang.
Kehidupan masyarakat Pamulihan dari awal lahirnya sampai sekarang dapat dibagi dalam lima periode :
1)     Masa penjajahan Hindia Belanda
2)     Masa penjajahan Jepang
3)     Masa Agresi Militer Belanda II
4)     Masa pemberontakan gerombolan DI/TII
5)     Masa setelah pemberontakan gerombolan DI/TII Kartosuwiryo

Dinamika kehidupan masyarakat Desa Pamulihan pada masa-masa itu sungguh teruji. Transportasi yang tidak mudah, perekonomian yang tidak stabil dan keamanaan yang terganggu oleh situasi perang dan pemberontakan.
Namun demikian, masyarakat desa Pamulihan tetap berjiwa sosial tinggi dengan senantiasa bergotong royong di kala musim panen.
Hal ini juga ditandai dengan acara sidekah bumi yang sampai sekarang tetap menjadi tradisi tanda syukur kepada Allah atas hasil panen yang diperoleh.
Berangsur-angsur keadaan membaik dengan dibangunnya jalan yang menghubungkan Kuningan, Subang, Pamulihan dan Rancah, tetapi letak geografis Pamulihan tidak membuat transfortasi 100% baik. Kondisi jalan membuat biaya transportasi sangat mahal, hal ini berpengaruh pada perekonomian para petani.
Wargapun tidak kalah semangat dalam pembangunan, mereka membuat terobosan sungai cicapar yang sekarang disebut Curug Goong, Totosan, muara Cibarengkok dan terobosan sungai Cisubang didaerah Hawara.
Kehidupan pendidikan masyarakat Pamulihan pun meningkat, banyak yang sudah melanjutkan kejenjang pendidkan lebih tinggi. Hal ini membawa pengaruh yang sangat besar pada perekonomian dan kehidupan sosial mayarakat.Tidak hanya itu kehidupan beragama di desa Pamulihan juga semakin berkembang.
Begitu pula dengan tradisi kesenian yang slalu dijaga kelestarianya seperti rudat, koprek, kendang penca dan lain-lain. Dan tentu kehidupan masyarakat Pamulihan tidak bisa dilepaskan dari besarnya peran kuwu-kuwu yang memimpin pada masanya dan para tokoh pembaharuan yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Dari awal berdiri sampai sekarang, Pamulihan sudah mengalami pergantian kuwu sebanyak 10 kali.
1)     Bapak Wiradinata/Kuwu sadjong (1870-1895)
2)     Bapak Nasmin Wiradisastra (1895-1931). Pada masa ini pusat pemerintahan dipindahkan ke Cukang Kanyere.
3)     Bapak Martaatmadja atau yang lebih dikenal dengan nama kuwu Karmu (1931-1958)
4)     Bapak Kantadisastra atau yang lebih dikenal dengan nama kuwu Deyo. (1958-1964)
5)     Bapak Madsuhli (1964-1966)
6)     Bapak Suheri (1966-1978), pada masa ini desa Pamulihan mengalami pemekaran menjadi 2 desa yaitu desa Pamulihan dan desa Mandapa Jaya.
7)     Bapak Didi Mulyadi (1978-1983), pada masa ini desa Pamulihan kembali mengalami pemekaran yaitu desa Pamulihan dan desa Jatisari. Bapak Didi Mulyadi memilih untuk melanjutkan kepemimpinannya di Jatisari dan Bapak Kamil Ganda Permadi sebagai pejabat sementara kuwu Pamulihan. (1983-1986)
8)     Bapak S.Martadimeja (1986-1994), karena beliau meninggal pada akhir masa tugasnya maka terjadi kekosongan dan dijabat sementara oleh Bapak Tjarwan.
9)     Bapak S.Wardjo (1994-2010). Pada masa pemerintahan bapak kuwu Wardjo dilaksanakan musyawarah penetapan hari ulang tahun desa tepatnya pada hari Rabu 26 november 2003 bertepatan tanggal 2 syawal 1424 H.  Acara ini dihadiri oleh warga masyarakat Pamulihan dan warga perantau yang tergabung dalam sebuah wadah organisasi yang bernama IKWP ( Ikatan Kekeluargaan Warga Pamulihan) yang didirikan oleh E.Sukarsa Wirananggapati, O.K. Zainudin, Edos Iman Saputra,dan E.Rajaman. Peran IKWP sangat besar dalam perkembangan desa Pamulihan begitu pula dalam penyusunan Sejarah Lahirnya Desa Pamulihan.
10)  Bapak Dadi Setiawandi (2010-sekarang). Pada masa bapak kuwu Dadi setiawandi, hari jadi pamulihan mulai diperingati secara rutin. Acara ini diharapkan mampu menjadi ajang silaturahmi antara masyarakat desa dan masyarakat perantau. Pada masa sekarang desa Pamulihan sedang melaksanakan berbagai macam program pembangunan dan kemasyarakatan  yang di bingkai oleh motto juang “ GIRI WINANGUN PRAJA RAHARJA “ sebagai hasil pemikiran dari putra asli Pamulihan yaitu ibu Hj. Djudju Djuhriah. 
2.2. Terbentuknya Desa Pamulihan

Pamulihan yang secara harfiah berarti pangbalikan atau tempat mulih ( tempat kembali ) berdiri sebagai satu desa dari hasil pemekaran desa Subang pada masa kuwu ke- 8 yaitu Kuwu Raksamanggala pada tahun 1870. Kuwu pertama di awal berdirinya desa Pamulihan adalah Kuwu Wiradinata atau yang lebih dikenal dengan nama Kuwu Sadjong.
Penetapan Hari jadi Desa Pamulihan yang jatuh pada tanggal 2 Syawal 1291 H. adalah sebagai hasil kesepakatan musyawarah para tokoh desa pada masa pemerintahan Kuwu Wardjo.

Tabel 1
Urutan Pejabat Kepala Desa
sampai dengan Tahun 2019

No
N a m a
Tahun
1870 s/d 2017
Keterangan
1
Bapak Wiradinata/Kuwu Sadjong
(1870-1895)

2

Bapak Nasmin Wiradisastra
(1895-1931)

3
Bapak Martaatmadja/ Kuwu Karmu
(1931-1958)

4
Bapak Kantadisastra/ Kuwu Deyo
(1958-1964)

 5
Bapak Madsuhli
(1964-1966)

6
Bapak Suheri
(1966-1978)

7
Bapak Didi Mulyadi
(1978-1983)

8
Bapak Kamil Ganda Permadi
(1983-1986)
Pjs
9
Bapak S. Martadimeja
(1986-1994)

10
Bapak Tjarwan
(1994-1994)
Pjs
11
Bapak S.Wardjo
(1994-2010)

12
Bapak Dadi Setiawandi
(2010-sekarang)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POTENSI DESA

DEMOGRAFI 1. Keadaan Wilayah a.   Luas dan Batas Wilayah Ø    Luas Desa          : 729.259 Ha Ø    Batas Wilayah     : § Sebel...