Sejarah Desa
a. Legenda Desa (Sasakala)
Desa
Pamulihan berada disebelah selatan Kabupaten Kuningan dan berada diperbatasan
antara kabupaten Kuningan dengan Kabupaten Ciamis dan perbatasan antara
Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Secara geografis Desa Pamulihan terdiri
atas tanah yang berbukit-bukit dan curam serta dilalui dua sungai yaitu sungai
cisubang dan Cicapar.
Desa
Pamulihan mengalami dua kali pemekaran sepanjang sejarah pendiriannya :
Pada masa ini wilayah Desa Pamulihan meliputi :
Kampung Menda, Cikoneng, Cimaranggi, Kadupugur, Sirnagalih, Sarangkole,
Ciketug, Sukamulih , Ciguna, Kembanglopang, Sukamulya dan Cukangkanyere sebagai
pusat ibukota.
Berbicara tentang sejarah Desa Pamulihan tentu
tidak lepas dari cikal bakal dan awal kehidupan masyarakat Desa Pamulihan yang
berasal dari Kedaleman Ketug.
Kedaleman Ketug merupakan pemerintahan setingkat
desa pertama dan tertua diperbukitan Subang dengan pusat pemerintahannya di
Babakan Ketug yang lokasinya berada disebelah utara kampung Ciketug Desa
Pamulihan.
Para tokoh besar yang mengawali membangun dan
mengembangkan kehidupan bermasyarakat diperbukitan Ketug, antara lain:
1)
Buyut Ahim merupakan orang pertama
yang mengawali pembukaan hutan trofis di Bukit Ketug yang dijadikan ladang dan
pemukiman.
2)
Jabasraga sebagai Dalem Ketug,
merupakan pemimpin pemerintahan setingkat Desa pertama dan tertua di wilayah
perbukitan subang yang menikah dengan keturunan Buyut Ahim dan mempunyai putra
yang bernama Wangsapraya, Wangsareka dan Rincik Manik. Beliau mempunyai peranan
dan jasa yang besar dalam penyebaran agama islam.
3)
Wirananggapati seorang putra mataram,
baik ketika berada di Kedaleman Ketug sebagai pengganti Jabasraga maupun
sesudah pindah ke Cibabangsalan Subang merupakan tokoh pembaharuan di Kedaleman
Ketug dan sebagai Kuwu Desa Subang yang pertama. Wirananggapati juga merupakan
menantu dari Jabasraga yang diangkat langsung oleh sultan mataram menjadi Dalem
Ketug kedua atau kepala desa Suban yang memindahkan pusat pemerintahan ke
Cibabangsalan Subang dan tidak menggunakan nama Ketug lagi.
4)
Wangsapraya, sepeninggal Wirananggapati yang pindah
ke Cibabangsalan Subang, Kedaleman
Ketug mengalami kekosongan. Hal ini
menyebabkan masyarakat menaruh harapan yang besar kepada Wangsapraya untuk
memimpin Kedaleman ketug karena keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.
Wangsapraya tinggal di Ciketug sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Makam
Pasarean Ciketug.
Peninggalan bekas Kedaleman Ketug
yang masih bisa kita jumpai sampai sekarang adalah:
1)
Makam Wangsapraya, putra sulung Dalem
Ketug Jabasraga yang disebut Pasarean Dalem yang berada di Kampung Babakan
Ciketug Desa pamulihan.
2)
Makam Wangsareka putra kedua Dalem
Ketug yang disebut Makam Buyut di Kampung Cirahayu desa Subang.
3)
Makam Wirananggapati dan Rincik Manik
di Cibabangsalan Subang.
4)
Leuweung Gedogan, bekas kandang kuda dan saung ladang
jabasraga yang berada di bukit Nagog Kampung Sukamulih dan Sukamulya Pamulihan.
5)
Leuweung Angker, yang merupakan bekas
pintu gerbang masuk ke Kedaleman Ketug dan berada di pinggir jalan menuju
Sarangkole dan awal memasuki Bukit Nagog.
6)
Embak Aryani, merupakan tempat pemandian dilereng
Bukit Nagog yang airnya tidak pernah kering walaupun musim kemarau.
7)
Kampung Babakan Ketug yang merupakan
tempat tinggal Jabasraga serta pemukiman sebagian penduduk Kedaleman Ketug.
Dan seiring berjalannya waktu, Desa Subang
mengalami pemekaran pada masa Kuwu Raksamanggala yaitu kuwu subang ke-8. Desa
Pamulihan diambil dan dipilih sebagai nama dari desa pemekaran tersebut. Kata
Pamulihan (pangbalikan) mengandung pengertian tempat mulih (tempat kembali).
Ini berarti tempat kembalinya pemerintahan setingkat desa ke wilayah Kedaleman
Ketug pertama, dan sebagai pusat pemerintahannya di Sawah Jati. Hal ini terjadi
pada tahun 1870 dan kuwu pertamanya
adalah Wiradinata atau lebih dikenal dengan nama Kuwu Sadjong. Bukti sejarah
bahwa Sawah Jati pernah menjadi pusat pemerintahan adalah adanya tempat pemakaman
umum Astana Pamulihan yang sekarang lebih dikenal dengan nama Tarikolot.
Desa Pamulihan sebagai desa pemekaran wilayahnya
meliputi Bulaklega, Sindang, Palasari, Salem, Cipicung, Citetel, Cikanyere,
Cisawah, Cibahu, Cikolotok, Nangerang, Cikalong, Sukadana, Dayasari, Menda,
Cikoneng, Cimaranggi, Cukangkanyere, Kadupugur, Sirnagalih, Sarangkole,
Ciketug, Ciguna dan Kembanglopang.
Kehidupan masyarakat Pamulihan dari awal lahirnya
sampai sekarang dapat dibagi dalam lima periode :
1)
Masa penjajahan Hindia Belanda
2)
Masa penjajahan Jepang
3)
Masa Agresi Militer Belanda II
4)
Masa pemberontakan gerombolan DI/TII
5)
Masa setelah pemberontakan gerombolan
DI/TII Kartosuwiryo
Dinamika kehidupan masyarakat Desa Pamulihan pada masa-masa itu sungguh
teruji. Transportasi yang tidak mudah, perekonomian yang tidak stabil dan
keamanaan yang terganggu oleh situasi perang dan pemberontakan.
Namun demikian, masyarakat desa Pamulihan tetap
berjiwa sosial tinggi dengan senantiasa bergotong royong di kala musim panen.
Hal ini juga ditandai dengan acara sidekah bumi
yang sampai sekarang tetap menjadi tradisi tanda syukur kepada Allah atas hasil
panen yang diperoleh.
Berangsur-angsur keadaan membaik dengan
dibangunnya jalan yang menghubungkan Kuningan, Subang, Pamulihan dan Rancah,
tetapi letak geografis Pamulihan tidak membuat transfortasi 100% baik. Kondisi
jalan membuat biaya transportasi sangat mahal, hal ini berpengaruh pada
perekonomian para petani.
Wargapun tidak kalah semangat dalam pembangunan,
mereka membuat terobosan sungai cicapar yang sekarang disebut Curug Goong,
Totosan, muara Cibarengkok dan terobosan sungai Cisubang didaerah Hawara.
Kehidupan pendidikan masyarakat Pamulihan pun
meningkat, banyak yang sudah melanjutkan kejenjang pendidkan lebih tinggi. Hal
ini membawa pengaruh yang sangat besar pada perekonomian dan kehidupan sosial
mayarakat.Tidak hanya itu kehidupan beragama di desa Pamulihan juga semakin
berkembang.
Begitu pula dengan tradisi kesenian yang slalu
dijaga kelestarianya seperti rudat, koprek, kendang penca dan lain-lain. Dan
tentu kehidupan masyarakat Pamulihan tidak bisa dilepaskan dari besarnya peran
kuwu-kuwu yang memimpin pada masanya dan para tokoh pembaharuan yang tidak bisa
disebutkan satu persatu.
Dari awal berdiri sampai sekarang, Pamulihan sudah
mengalami pergantian kuwu sebanyak 10 kali.
1)
Bapak Wiradinata/Kuwu sadjong
(1870-1895)
2)
Bapak Nasmin Wiradisastra (1895-1931).
Pada masa ini pusat pemerintahan dipindahkan ke Cukang Kanyere.
3)
Bapak Martaatmadja atau yang lebih
dikenal dengan nama kuwu Karmu (1931-1958)
4)
Bapak Kantadisastra atau yang lebih
dikenal dengan nama kuwu Deyo. (1958-1964)
5)
Bapak Madsuhli (1964-1966)
6)
Bapak Suheri (1966-1978), pada masa
ini desa Pamulihan mengalami pemekaran menjadi 2 desa yaitu desa Pamulihan dan
desa Mandapa Jaya.
7)
Bapak Didi Mulyadi (1978-1983), pada
masa ini desa Pamulihan kembali mengalami pemekaran yaitu desa Pamulihan dan
desa Jatisari. Bapak Didi Mulyadi memilih untuk melanjutkan kepemimpinannya di
Jatisari dan Bapak Kamil Ganda Permadi sebagai pejabat sementara kuwu
Pamulihan. (1983-1986)
8)
Bapak S.Martadimeja (1986-1994),
karena beliau meninggal pada akhir masa tugasnya maka terjadi kekosongan dan
dijabat sementara oleh Bapak Tjarwan.
9)
Bapak S.Wardjo (1994-2010). Pada masa
pemerintahan bapak kuwu Wardjo dilaksanakan musyawarah penetapan hari ulang
tahun desa tepatnya pada hari Rabu 26 november 2003 bertepatan tanggal 2 syawal
1424 H. Acara ini dihadiri oleh warga
masyarakat Pamulihan dan warga perantau yang tergabung dalam sebuah wadah
organisasi yang bernama IKWP ( Ikatan Kekeluargaan Warga Pamulihan) yang
didirikan oleh E.Sukarsa Wirananggapati, O.K.
Zainudin, Edos
Iman Saputra,dan E.Rajaman. Peran IKWP sangat besar dalam perkembangan desa
Pamulihan begitu pula dalam penyusunan Sejarah Lahirnya Desa Pamulihan.
10) Bapak
Dadi Setiawandi (2010-sekarang). Pada masa bapak kuwu Dadi setiawandi, hari
jadi pamulihan mulai diperingati secara rutin. Acara ini diharapkan mampu
menjadi ajang silaturahmi antara masyarakat desa dan masyarakat perantau. Pada
masa sekarang desa Pamulihan sedang melaksanakan berbagai macam program
pembangunan dan kemasyarakatan yang di
bingkai oleh motto juang “ GIRI WINANGUN PRAJA RAHARJA “ sebagai hasil
pemikiran dari putra asli Pamulihan yaitu ibu Hj. Djudju Djuhriah.
2.2.
Terbentuknya Desa Pamulihan
Pamulihan yang secara harfiah berarti pangbalikan atau
tempat mulih ( tempat kembali ) berdiri sebagai satu desa dari hasil pemekaran
desa Subang pada masa kuwu ke- 8 yaitu Kuwu Raksamanggala pada tahun 1870. Kuwu
pertama di awal berdirinya desa Pamulihan adalah Kuwu Wiradinata atau yang
lebih dikenal dengan nama Kuwu Sadjong.
Penetapan Hari jadi Desa Pamulihan yang jatuh pada
tanggal 2 Syawal 1291 H. adalah sebagai hasil kesepakatan musyawarah para tokoh
desa pada masa pemerintahan Kuwu Wardjo.
Tabel
1
Urutan Pejabat Kepala Desa
sampai dengan Tahun 2019
No
|
N a m a
|
Tahun
1870
s/d 2017
|
Keterangan
|
1
|
Bapak
Wiradinata/Kuwu Sadjong
|
(1870-1895)
|
|
2
|
Bapak Nasmin
Wiradisastra
|
(1895-1931)
|
|
3
|
Bapak Martaatmadja/ Kuwu Karmu
|
(1931-1958)
|
|
4
|
Bapak Kantadisastra/ Kuwu Deyo
|
(1958-1964)
|
|
5
|
Bapak Madsuhli
|
(1964-1966)
|
|
6
|
Bapak Suheri
|
(1966-1978)
|
|
7
|
Bapak Didi Mulyadi
|
(1978-1983)
|
|
8
|
Bapak Kamil Ganda
Permadi
|
(1983-1986)
|
Pjs
|
9
|
Bapak S. Martadimeja
|
(1986-1994)
|
|
10
|
Bapak Tjarwan
|
(1994-1994)
|
Pjs
|
11
|
Bapak S.Wardjo
|
(1994-2010)
|
|
12
|
Bapak Dadi
Setiawandi
|
(2010-sekarang)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar